Share/Bookmark

Selasa, 05 Januari 2010

Bangsa Kita Di Ambang Kepunahan

Gejala-gejala sudah meremang di sekujur tubuh negeri kepulauan ini. Pesimisme dan apatisme bukan saja terekspresikan dalam karya-karya seni mutakhir, dalam komik, film sciene-fiction, atau mitos baru yang diciptakan, tapi juga hingga fenomena merebaknya tarekat modern, mulai dari gaya Subud, Scientologi, hingga LSM-LSM yang memenuhi kawasan terpinggirkan sampai tumpah ke jalanan di mana protes-protes radikal diarahkan pada WTO, Bank Dunia, IMF, atau negeri seperti Israel dan AS.

Mungkin masih dalam bentuk kecambah, namun ada yang sudah berbentuk organisasi profesional. semua memperlihatkan rona muka kita yang gelisah; mencari pegangan kuat di mana kita bisa mengendalikan perahu layar kita yang diombang-ambingkan ombak besar adab digital, cyber, hologram, atau wireless world ini.

kegelisahan itu tampak sebagai upaya-upaya parsial yang mengalami kesulitan titik temu, karena semua modus titik temu sudah diambil alih dan dikuasai oleh kekuatan dominan. ia tinggal sebagai serpihan. Sebagian menarik, sebagian besar menggelikan dan mengecewakan. Hasilnya; perilaku, sikap, cara berpikir, dan mentalitas yang hibuk. kacau, gamang, bahkan khaotik. Di semua Lini.

Dari kaca pandang itulah, gaya esaik seperti itu menghimpun serpihan-serpihan pengertian, menyusun satu mozaik dari kenyataan mutakhir kita. Semua gagasan tersebut tersusun dari pecahan-pecahan ide yang kadang sektoral. Apakah pada akhirnya ia akan menyusun satu gerabah atau komposisi mozaik tertentu. Belum ada yang tahu. Tapi, yang pasti pandangan itu dapat menjadi sebuah awal.

0 komentar:

 

©2009 MEGUMI | by Sagan's