Share/Bookmark

Jumat, 16 April 2010

Yesterday

Yesterday

Yesterday there was so many things I was never told
Now that I’m starting’ to learn
I feel I’m growing’ old
cause yesterday’s got nothing’ for me
old pictures that I’ll always see
Time just fades the pages in my book of memory
Prayers in my pocket
and no hand in destiny
I’ll keep on moving’ along
with no time to plan my feet
Yesterday’s got nothing’ for me
old pictures that I’ll always see
Something’ could be better
if we’d all just let them be

Gun N’ Roses
Yesterday (Album Use Tour Illusion II)

Apa arti kemarinku? Apakah hari-hari kemarin akan mengikatku hingga hari esok pun tak lebih dari apa yang telah terjadi kemarin? Perenungan mengenai hal itulah yang saya rasakan ketika mendengarkan lagi Yesterday dari Gun N’Roses di atas. Pada satu titik dalam kehidupan saya, lirik lagu itu terasa menjatuhkan saya dalam jurang eksistensi yang begitu dalam. Eksistensi manusia ternyata tak lebih dari sebuah “kematian dalam kehidupan” ketika tak mampu mencapai esensi.
Setiap diri kita lahir dalam sebuah eksistensi yang tak pernah kita pilih sebelumnya. Sebuah kalimat menarik dalam Dunia Sophie Karya Josteein Garder, berbunyi : Kita selalu bisa memilih teman-teman kita, tapi kita tidak pernah bisa memilih diri kita sendiri. Apakah masing-masing dari kita pernah memilih ingin dilahirkan menjadi siapa? Anak siapa? Kalangan apa? Dst. Tentu saja tidak. Kita lahir dalam sebuah keterlemparan. Faktis. Begitu saja “ada” dalam sebuah eksistensi yang mendahului kelahiran diri kita.
Eksistensi ternyata adalah sebuah kematian dalam hidup jika kita tak mampu menemukan esensi. Kondisi itu terjadi ketika kita lahir sebagai si A dengan segala identitas, status, tata cara dan berbagai keputusan yang mesti “diambil” karena alasan kepantasan budaya tempat eksistensi kita berada. Kita hanya mengambil dan mengambil keputusan, tanpa pernah membuat. Dan satu-satunya alasan hari kemarin juga seperti itu. Pada kondisi ini, kita sebenarnya Cuma sekedar “ada” dan tak pernah “meng-ada”. “Ada” kita dengan demikian adalah sebuah “ada-yang-mati”.
Pernahkah kita, sekali saja dalam hidup ini, memutuskan sesuatu secara bebas, dengan tanpa mengingkari tapi juga sekaligus terlepas dari apa pun yang menyertai eksistensi kita?
Saya teringat sebuah nukilan lirik menarik dari lagu Bang a Drum yang dinyanyikan Jon Bon Jovi dalam album Blaze of Glory.

I called upon my brother just the other day
He said: John I’m goanna die if I don’t start to live again
I work each day and night like clockwork
Just trying to make ends meet
I could kick this bad world’s ass
if I could just get on my feet
I’d bang a drum for the dying
Bang a drum for the truth
Bang a drum for the innocence lost in your youth
Bang a drum, bang it loudly
or as soft as you need
Bang a drum for you brother
and a drum for me

Ketika hidup hanya sebuah keberulangan tanpa makna dari hari kemarin, maka sebenarnya manusia telah mati. Inilah sebenarnya saat untuk start to live again. Seseorang hanya bisa melepaskan dirinya dari dunia yang mati ini (atau could kick this bad world’s ass) ketika ia mampu berdiri dan berjalan di atas kakinya sendiri lepas dari “eksistensi hari kemarin” (baca: could just get on my feet). Biarkan orang bersuara apa saja tentang kematian, kebenaran, atau kepolosan anak-anak yang hilang seiring kita beranjak remaja. Biarkan orang lain bicara lantang atau berbisik-bisik semau mereka. Tapi yang penting adalah bagaimana kita mampu berbicara untuk diri kita sendiri. Kelihatannya sederhana, namun kerapkali tidak secara mudah melakukannya. Banyak orang yang tak berani keluar dari “eksistensi hari kemarin” yang menjeratnya.
Setiap orang adalah great man karena memiliki “kekuatan raksasa” dalam dirinya. Hanya saja tak semua orang membiarkan dirinya tahu kekuatan itu. Ketaktahuan itu kerap dibarengi keengganan untuk memperoleh pengetahuan, karena sudah dimapankan oleh berbagai ilusi tentang eksistensi diri. Dan dalam kondisi itu, selamanya kekuatan raksasa itu akan terkerangkeng dalam diri. Tentu saja inti great man bukan persoalan memilih hidup di alam buas, melainkan bagaimana menjawab panggilan, “Datanglah!” bagi setiap diri yang akan berbeda antara orang satu dengan yang lain.
Panggilan itulah yang akan membuat kita menyatu dengan semesta. Aku adalah semesta, semesta adalah aku. Panggilan yang jika dijawab akan membebaskan kekuatan luar biasa dalam diri. Setiap orang memiliki eksistensinya dan setiap orang juga memiliki kekuatan dalam dirinya. Namun, yang mencirikan orang-orang besar adalah kepantapan hati yang membuat mereka selalu melihat kemungkinan dan tak sekedar terjebak dalam ilusi eksistensi hidup, merekalah yang menemukan esensi atau diri sejati.
Perjalanan menemukan esensi atau diri sejati, dengan demikian adalah perjalanan menuju tempat yang hilang dari segala peta, tak ada buku panduan, lokakarya ataupun training yang akan menunjukkan mesti ke mana Anda melangkah. Ini adalah perjalanan untuk menemui segala keliyanan dan kemungkinan pada cakrawala luas. Sebuah perjalanan menuju dan kembali pada diri yang terdalam. Jika Anda telah siap untuk berkemas memulai perjalanan tersebut, ada baiknya kutipan lagu Yesterday dari berikut ini membekali Anda :

Yesterday,
there was so many things I was never shown
Suddenly this time I found
I’m on the street and I’m all alone
Yesterday’s got nothing’s for me
old pictures that I’ll always see
aim’s got time
to reminisce old novelties
[ ... ]

Kamis, 11 Februari 2010

Persetubuhan Penjarah Negara,

Kekuatan Kapitalisme Global dan Kematian Demokrasi

Demokrasi telah mampus, sejalan meraksasanya kuasa kapitalisme global. Kuasa bisnis telah menggantikan kuasa politik negara. Kuasa bisnis menjarah habis negara, dan pembisnis jauh lebih berkuasa disbanding politisi. Kekuatan perusahaan dalam mengeksekusi kebijakan publik jauh melampaui kekuasaan politik dan negara. Bahkan, dengan provokatif, terjadi pula perselingkuhan antara bisnis dan politik. Perselingkuhan itu melahirkan konspirasi bisnis-politik tingkat global di level tingkat tinggi. Semua sektor telah disetubuhi dengan romantis dan koersif oleh bisnis.

Era dimulai dan disetir oleh lembaga-lembaga ekonomi dunia, perusahaan transnasional, dan bahkan melibatkan lembaga-lembaga internasional sebagai actor akumulasi modal. Negara ditepikan, bahkan sering hingga peran tanggung jawab sosialnya. Hasilnya? Negara yang lunglai, negara yang gagal memenuhi tugas yang menjadi basis filsafat keberadaannya; mencapai keadilan dan kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam waktu yang sama negara yang begitu perkasa di saat melakukan dua hal, yang merupakan satu-satunya peran negara yang dapat dikatakan; membangun basis legal-material operasi kapitalisme dan anjing penjaga jika ada gangguan dari masyarakat atau mahasiswa. Di situlah kematian demokrasi terjadi, di saat ekekutor kebijakan publik tak lagi diperankan oleh negara, melainkan oleh kuasa pasar. Negara hanyalah semata sebagai pelaksana kebijakan yang telah dirancang pasar.
[ ... ]

Rabu, 20 Januari 2010

KEBIJAKSANAAN HIDUP BAGIAN IV ( AGAMA )


Agama digambarkan sebagai metafisika dari manusia-manusia yang bergerombol (the metaphysics of the masses). Tetapi, ia kemudian melihat makna yang terkandung di dalam praktek-praktek dan dogma-dogma agama. Dengan menyelidiki esensi agama, maka akan terkuak makna dari filsafatnya. Kristianitas misalnya, adalah sebuah filsafat yang mendalam tentang pesimisme: “doktrin tentang dosa asal (penegasan atas pengakuan atas kekuatan kehendak) dan pembebasan (penolakan atas kehendak) merupakan kebenaran sejati yang menjadi esensi Kristianitas Ketuatan melalui kebajikan, yang darinya Kristianitas dapat mengatasi Judaisme yang pertama, dan kemudian atheisme Yunani dan Roma, semata-mata terletak pada pesimismenya, pada pengakuannya bahwa kita berada dalam keadaan celaka dan berdosa, sedangkan baik Judaisme maupun Atheisme terlampau optimistik.
Akan tetapi, Budisme lebih mendalam ketimbang Kristianitas karena ia mengahancurkan kehendak, yang masih diakui oleh seluruh agama, dan memuja Nirwana sebagai tujuan dari seluruh perkembangan pribadi. Orang-orang Hindu lebih mendalam daripada para pemikir Eropa karena interpretasi mereka tentang dunia adalam interpretasi yang internal dan intuitif, dan bukannya eksternal dan intelektual. Intelek membagi-bagi atau memilah-milah segala sesuatu, intuisi menyatukan segala sesuatu. Orang-orang Hindu melihat “aku” sebagai khayalan individu semata-mata merupakan sesuatu yang bersifat fenomenal, dan hanya merupakan bagian dari kenyataan sejati, yakni “Yang Tidak Terbagi” (The Infinite One). Terdapat ramalan bahwa pengaruh filsafat Timur, khususnya India, pada kebudayaan Eropa: “Pengaruh literatur Sansekerta akan merebak tidak kurang kuatnya dibandingkan dengan pengaruh kesusastraan Yunani pada abad kelimabelas”.
Kebijaksanaan sejati adalah milikNYA: mengurangi sesedikit mungkin keinginan dan kehendak kita. Kehendak dunia lebih kuat daripada kehendak kita, oleh sebab itu, kurangilah kehendak kita. Semakin berkurang kehendak menggoda kita, semakin berkurang penderitaan menimpa kita.
Dengan tiga unsur agama ( Islam ); Iman, Islam, dan Ihsan, kita sebagai insanNYA memahami dan menjalani ketiganya (unsur) insyaALLOH dengan ridhloNYA akan diberikan kenikmatan kehidupan. Jika dalam Matematika 1 + 1 = 2, maka dengan berpegang teguh pada agama Islam juga ada rumusnya, “Saya + ALLOH = Cukup” dan segala kenikmatan ditambah rasa syukur menghujam dalam di jiwa kita,…… Aamien3x… … Wallohu Alam bi Showab …… ^_^
[ ... ]

KEBIJAKSANAAN HIDUP BAGIAN III ( SENI )


Pembebasan pengetahuan dari tugasnya untuk melayani kehendak, dan keterlupaan pada diri sendiri serta keinginan-keinginan materialnya, serta diangkatnya fungsi jiwa untuk merenungkan hal-hal yang esensial dan universal adalah fungsi dari kesenian. Objek ilmu adalah hal universal, yang berisi banyak hal yang particular. Objek seni adalah hal particular, yang bersifat sesuatu yang universal. Sebuah karya seni dikatakan berhasil kalau ia menghadirkan Ide Platonis, atau sesuatu yang universal. Potret seorang manusia haruslah dimaksudkan bukan untuk keunggulan fotografis, melainkan untuk mengungkap sejauh mungkin kualitas esensial dan universal dari manusia. Oleh sebab itu, seni lebih agung ketimbang ilmu karena ilmu dijalankan dengan akumulasi dan penalaran yang keras dan hati-hati, sedangkan seni mencapai tujuannya lewat intuisi dan presentasi. Ilmu berdampingan dengan bakat, seni membutuhkan kejeniusan.
Kesukaan kita pada esensi, seperti pada puisi dan lukisan, diperoleh dari kontemplasi tentang objek, tanpa campur tangan kehendak pribadi. Seni meredakan sakitnya kehidupan, karena menghadirkan kepada kita sesuatu yang abadi dan universal, di balik sesuatu yang sementara dan individual. Terdapat ungkapan, “sejauh jiwa melihat segala sesuatu dalam aspeknya yang abadi, maka ia berpartisipasi di dalam keabadian”.
Kekuatan seni untuk mengangkat kita pada keabadian, terutama dimiliki oleh musik. Musik sama sekali tidak sama dengan seni-seni lain. Seni-seni lain adalah “tiruan dari Ide” (the copy if Idea) , sedangkan musik adalah “tiruan dari kehendak itu sendiri” (the copy of the will it seld). Musik mengungkapkan kehendak yang secara abadi terus bergerak, menghentak-hentak, melayang-layang ke sana-kemari, dan akhirnya efek seni-seni lain karena seni-seni lain hanya membicarakan bayang-bayang, sedangkan musik membicarakan benda-bendanya sendiri. Musik pun berbeda dengan seni-seni lain karena ia mempengaruhi perasaan kita secara langsung, tanpa medium ide-ide.
[ ... ]

KEBIJAKSANAAN HIDUP BAGIAN II ( JENIUS )


Jenius adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan yang tidak banyak unsur kehendaknya (will-less knowledge). Bentuk paling rendah dari seluruh kehidupan berasal dari kehendak, dan tanpa pengetahuan. Manusia kebanyakan adalah sebagian besar kehendak dan sedikit pengetahuan, sedangkan jenius adalah sebagian besar pengetahuan dan sedikit kehendak. Pada manusia jenius, aktivitas reproduktif berada jauh di luar aktivitas intelektual. Jeniua adalah keunggulan yang tidak normal dari perasaan dan sikap lekas marah terhadap kekuatan reproduktif. Itulah sebabnya, ada perumusan sengit antara jenius dengan perempuan. Perempuan merupakan simbol dari reproduksi dan dari tunduknya intelek pada kehendak. Perempuan bisa saja punya bakat, tapi tidak jenius, karena selalu tetap subjektif. Bersama perempuan segala sesuatu adalah personal, dan dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi. Sebaliknya, jenius adalah “objektivitas yang paling lengkap”. Jenius adalah “daya atau kekuatan” yang meninggalkan kepentingannya sendiri, menghapus keinginan dan tujuannya sendiri, menunda kepribadiannya untuk sementara waktu, sehingga bisa menjadi subyek yang sungguh-sungguh mengetahui, dan visinya tentang dunia sangat jelas…. Oleh sebab itu, ekspresi dari seorang jenius adalah: pada wajah jenius, unggulnya pengetahuan atau kehendak tampak sangat jelas.
Kalau intelek terbebaskan dari kehendak, maka ia bakal mampu melihat objek sebagaimana adanya. Pikiran menerobos nafsu, seperti sinar matahari menembus kabut, untuk kemudian menerangi pusat benda-benda. Melalui apa yang partikular dan individual, pikiran mampu sampai pada “Ide Platonis” atau esensi yang universal. Rahasia jenius terletak pada persepsinya yang jelas dan utuh pada sesuatu yang objektif, yang esensial, dan yang universal.
Akan tetapi, karena jenius “berbeda” dengan orang kebanyakan maka ia merupakan orang yang tidak mampu menyesuaikan diri ke dalam dunia aktivitas yang penuh kehendak, yang praktis, dan personal. Karena ia (jenius) melihat sedemikian jauh, maka ia tidak mampu melihat apa yang paling dekat dari dirinya; ia adalah orang yang tidak hati-hati dan “aneh”, sementara visinya diarahkan pada bintang-gemintang, tanpa sadar kakinya menginjak lubang. Jenius itu asosial, ia berpikir tentang apa yang fundamental, yang abadi, yang universal. Orang kebanyakan berpikir tentang yang temporer, yang khusus, yang langsung jadi; pikiran mereka dangkal dan tidak mempunyai dasar yang kuat. Biasanya manusia gemar bergaul, secara intelektual miskin dan secara umum vulgar. Manusia jenius mempunyai kompensasi: Kepuasan yang diperoleh dari semua keindahan, hiburan yang didapatkan dari seni, dan antusiasme dari seniman, semua itu membuat ia lipa pada susahnya kehidupan. Itu semua adalah bayaran untuk…. Jernihnya kesadaran dan untuk kesendiriannya yang hening di antara berbagai ras manusia yang bermacam-macam.
Akan tetapi, konsekuensinya, jenius terpaksa hidup dalam isolasi dan kadang-kadang dalam kegilaan. Perasaannya yang amat sensitif, dipadukan dengan imajinasi dan instuisinya, ditambah dengan kesendirian dan ketidakmampuannya untuk beradaptasi, membuat jiwanya terputus dari kenyataan. Hubungan antara kegilaan dan jenius, tampak dari biografi-biografi orang-orang besar seperti Rousseau. Di dalam rumah sakit-rumah sakit jiwa, banyak ditemukan kasus pasien individual yang memiliki bakat-bakat besar, dan yang kejeniusannya tampak melalui kegilaannya.
………. (@_@) …………
[ ... ]

KEBIJAKSANAAN HIDUP BAGIAN I ( FILSAFAT )


Orang yang mengejar kekayaan seringkali diejek dengan berbagai sebutan; mata duitan, serakah, perampok. Adalah alamiah kalau manusia mengejar sesuatu yang gampang dipertukarkan dengan benda-benda atau barang-barang lain, karena akan bisa mempermudah kehidupan. Hanya saja kehidupan yang sepenuhnya dicurahkan untuk mengejar kekayaan pada prinsipnya adalah kehidupan yang tidak berguna, kecuali kita tahu bagaimana kekayaan itu diubah menjadi kenikmatan. Hal itu tidak gampang karena memerlukan seni, peradaban, dan kebijaksanaan. Mengejar kepuasan indrawi tidak akan memberikan kenikmatan untuk jangka panjang; orang perlu paham tentang tujuan hidup, di samping seni untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Laki-laki seribu kali lebih bergairah untuk menjadi kaya dibandingkan untuk menjadi berbudaya, meskipun sangat pasti bahwa keberadaannya ( “is” ) jauh lebih bisa memberikan kebahagiaan daripada apa yang dimilikinya ( “have” ). Seorang manusia yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan waktu luangnya; ia bingung mencari sensasi-sensasi baru dari satu tempat ke tempat lain; dan akhirnya ia ditakhlukkan oleh kebosanan yang selalu membayang-bayanginya.
Jadi, bukan kenyataan melainkan kebijaksanaanlah yang merupakan jalan. Manusia adalah makhluk yang berkehendak (yang sumbernya terletak pada system reproduktif), dan baru kemudian sebagai subyek dari pengetahuan murni (yang sumbernya adalah otak). Perlu dikatakan bahwa pengetahuan, kendati lahir dari kehendak, bisa menguasai kehendak. Intelek kadang-kadang menolak untuk patuh pada kehendak, misalnya ketika secara sia-sia kita mengingat-ingat sesuatu. Akan tetapi, itu baru permulaan karena jika ditinjau lebih jauh lagi, ternyata intelek pun bisa menguasai kehendak. Sesuai dengan renungan, seorang manusia menderita….. oleh apa yang sangat penting, atau mendesak seperti bunuh diri, hukuman mati, perang tanding, dan berjuang melawan kehidupan yang penuh marabahaya dan pada umumnya, oleh hal-hal yang terhadapnya seluruh sifat dasar hewaninya berontak. Dalam keadaan seperti itu kita bisa melihat sampai sejauh mana rasio menguasai nafsu hewaninya.
Kekuatan intelek atas kehendak bisa kita kembangkan lebih jauh. Keinginan bisa dikendalikan atau diarahkan oleh pengetahuan, sejauh intelek mengenal lebih jauh keinginan-keinginan kita sendiri. Semakin kita mengenal nafsu-nafsu kita, semakin kurang kita dikuasai oleh nafsu-nafsu dan tidak ada yang bakal melindungi kita dari paksaan atau kekuatan luar, selain ontrol dari kita sendiri. “Kalau kamu hendak membuat apa saja tunduk kepadamu, maka tunduklah kamu pada rasiomu. Yang paling mengagumkan dari semua yang sangat mengagumkan bukanlah penakhlukan atas dunia, melainkan penakhlukan atas diri sendiri”.
Filsafat, pada akhirnya, berfungsi sebagai alat untuk memurnikan kehendak. Akan tetapi filsafat harus dimengerti sebagai pengalaman dan pemikiran, bukan melulu sebagai pembacaan atau studi pasif.
Banyak orang yang serupa dengan fuga vaculi (“alat penyedot udara hampa”. Jiwa mereka sangat miskin, sehingga mengambil secara paksa pikiran-pikiran orang lain….. sangatlah berbahaya membaca suatu masalah sebelum kita sendiri memikirkannya…. Ketika kita membaca, orang lain berpikir untuk kita; kita semata-mata mengulang proses mental si penulisnya. Demikianlah-jika seseorang menghabiskan seluruh waktunya untuk membaca,…… Pengalaman tentang dunia barangkali bisa dilihat sebagai suatu bentuk teks, dan terhadapnya refleksi dan pengetahuan membentuk komentar. Jika terdapat sejumlah besar refleksi dan pengetahuan intelektual, dan sangat sedikit pengalaman, maka hasilnya adalah seperti buku yang setiap halamannya mempunyai dua garis teks untuk ratusan bahkan jutaan komentar.
”Maka hiduplah sebelum membaca buku-buku; dan bacalah teks sebelum membaca komentarnya. Satu karta jenius jauh lebih baik daripada seribu komentar”.
Dalam keterbatasan tersebut, sangatlah bergunamengejar peradaban atau kebudayaan karena kebahagiaan-kebahagiaan kita tergantung pada apa yang ada di dalam kepala kita, bukan pada apa yang kita miliki di dalam kantong kita. Kemasyhuran atau popularitas adalah bodoh; “kepala-kepala orang lain merupakan tempat celaka untuk dijadikan rumah kebahagiaan sejati kita”. Kebahagiaan yang kita terima dari diri kita sendiri jauh lebih besar daripada yang kita dapatkan dari lingkungan kita. Benar apa yang dikatakan Aristoteles “bahagia berarti menjadi diri yang sederhana”.
Jalan keluar dari kejahatan kehendak adalah renungan atau templasi yang cerdas tentang kehidupan. Intelek yang tidak mementingkan diri sendiri ibarat minyak wangi yang membasuh kegagalan dan kebodohan dari dunia kehendak. Begitu banyak manusia yang tidak pernah sanggup untuk tidak mengamati apapun kecuali sebagai objek-objek keinginan dan oleh sebab itu, mereka merasa sengsara. Maka, amatilah hal apapun sebagai objek-objek pemahaman……… ^_^
[ ... ]

Senin, 18 Januari 2010

"RAPUH"












Masih dapat kurasa detik akhir bersama
Saat kau pergi dan tak kembali
Dan kini ku sadar semua tak kan terjadi
Cinta yang telah lama kita miliki

Tunjukkan di mana tempat aku bertanya
Agar aku hapuskan dirimu
Beraninya dirimu meninggalkan aku
Teganya kau hancurkan hatiku

Taukah kamu? Tlah kering airmataku
Menangisi dirimu, merindumu
Taukah kamu? ku rapuh tanpa dirimu
'Tlah lelah jasadku, menantimu

Bukan hanya jasadku yang semakin tak mampu
Namun hatiku pun keluh sebutkan namamu
Semakin hari aku semakin rapuh

Taukah kamu? Tlah kering airmataku
Menangisi dirimu, merindumu
Taukah kamu? ku rapuh tanpa dirimu
'Tlah lelah jasadku, menantimu


Tunjukkan di mana tempat aku bertanya
Agar aku hapuskan dirimu
Beraninya dirimu meninggalkan aku
Teganya kau hancurkan hatiku



Taukah kamu? Tlah kering airmataku
Menangisi dirimu, merindumu
Taukah kamu? ku rapuh tanpa dirimu
'Tlah lelah jasadku, menantimu

Taukah kamu? Tlah kering airmataku
Menangisi dirimu, merindumu
Taukah kamu? ku rapuh tanpa dirimu
'Tlah lelah jasadku, menantimu
[ ... ]
 

©2009 MEGUMI | by Sagan's