Share/Bookmark

Senin, 11 Januari 2010

Memandang Kenyataan

Memandang kenyataan adalah syarat-syarat kemenangan yang paling asasi dan sifat-sifat generasi gemilang. Oleh karena itu, di mana posisi sekarang?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mengingatkan diri bahwa sifat-sifat unggulan bagi pemilik kemenangan dan kehormatan hanyalah merupakan hasil perjuangan besar dan jihad pahit mereka dalam melawan nafsunya yang telah membuahkan penyucian jiwa dan pelatihan, serta penguasaan kendali para kekuatan melaksanakan perintah Alloh dan meninggalkan segala hal yang dibenci-NYA. Sementara itu, jika ingin mengetahui di mana posisi maka setiap hendaklah memperhatikan perbuatan-perbuatannya, kemudian membandingkannya dengan karakteristik pemilik kemenangan dan kehormatan. Maka perbuatan adalah cermin yang menghasilkan gambar sebagaimana aslinya, yaitu perjuangan yang berlangsung antara hati dan nafsunya.
Jika membiarkan diri dengan tidak mengendalikan hawa nafsu, maka hasil awal dan akhirnya bergantung kepada diri sendiri. Dirilah yang akan menentukan nasibnya sendiri. Dengan demikian, akan menemukan jurang pemisah antara diri dan sifat-sifat generasi gemilang.
Jika berkorban setengah-setengah akan didapati jarak yang sebanding dengan kapasitas pengorbanan. Jika berjuang dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati serta konsekuen dengan prinsip takwa, akan merasakan dekat dengan generasi kemenangan dan ketentraman.
Sifat-sifat unggulan sebagai hamba Alloh adalah “standar” untuk mengukur posisi diri dan apa yang harus dilakukan.
Melihat keadaan diri dan bandingkan dengan perbuatan dengan perbuatan orang-orang yang dicintai Alloh, maka dapati jarak yang jauh berbeda antara dan mereka. Masih menyukai kesenangan dan membenci kesulitan, karena selalu membuat-membuat alasan ketika terlambat menunaikan solat berjamaah, sehingga tertinggal takbiratul ihram dan shaf pertama, bahkan tidak solat berjamaah. selalu berusaha membuat-buat alasan untuk meninggalkan puasa sunnah meskipun telah berniat melakukannya.
juga sering berkhayal dan berangan-angan dengan keinginan duniawi dan tidak ridha dengan apa yang diberikan Alloh. Selalu merasa iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Merasa takut untuk berterus terang mengatakan kebenaran, sehingga sering tidak mau menyampaikan kebenaran kepada orang2 yang mempunyai pangkat dan kekuasaan. Sering merasa bosan dan tidak kuasa menahan kesulitan. sering membalas dendam terhadap orang yang menzalimi dan menyakiti.
Pun masih senang melakukan hal yang tidak berguna duduk di tempat hura-hura dan membuang waktu. masih merasa berat untuk menolong orang lain, tetapi selalu ingin dibantu oleh orang lain. Merasa senang ketika disanjung orang lain, baik pujian itu benar atau tidak. Sebaliknya, tidak suka dikritik oleh seseorang. Masih merasa berat untuk menjawab “tidak tahu” ketika ditanya hal yang tidak diketahui, apalagi di depan orang yang menyangka berilmu. Jika berdebat dengan orang lain, selalu ingin menang sendiri dan mencari-cari kesalahan orang lain. Jika salah dan seharusnya meminta maaf, merasakan jiwa berontak untuk mengakui kesalahan. Jika duduk dalam sebuah permpulan, ingin menceritakan kelebihan dan prestasi dan memotong pembicaraan orang lain agar sendirilah yang berbicara. Sering merasa gila pujian agar orang mengetahui kelebihan perbuatan dan lupa bahwa kelebihan itu dari Alloh. Dan jika berbuat baik pada seseorang, ingin mendapatkan balasan dari orang tersebut, dan mengingat-ingatkan kebaikan itu bila ada kesempatan. Merasa sangat kesal jika orang tersebut melupakan kebaikan. Sering menunggu kesalahan orang lain agar dikoreksi, sehingga tampak kelebihan dan keistimewaan. senantiasa takut kemiskinan dan kesulitan hidup sehingga selalu menolak untuk beramal di jalan Alloh dengan alasan tersebut. Enggan mendengarkan suara hati ketika menilai persoalan, tapi senantiasa terdorong mengiti hawa nafsu. Senantiasa tergesa-gesa dalam mengambil keputusan tanpa melihat akibatnya.
Inilah beberapa hal yang masih ada dalam diri. Ternyata, masih banyak perbuatan-perbuatan yang jauh dari hamba Alloh. Sering malas melakukan ibadah secara sempurna, yaitu selalu memilih yang ringan menurut hawa nafsu. Padahal, agama ini tidak akan tegak kecuali di atas pundak yang memiliki semangat tinggi dan keyakinan kuat.
So? Banyak perbuatan yang lebih menyembah diri daripada menyembah Alloh. Telah melupakan Alloh, sehingga lupa “musuh” pada diri, bahkan mencintainya, mengikutinya, dan menjadi hambanya.
Berharap, dapat menyadari keadaan dengan kekalahan dan keterbelakangan generasi hingga kini. Bagaimana memohon kemenangan dari Alloh, sedangkan tidak memenuhi syarat-syarat kemenangan pada setiap diri. Alloh tidak akan menyalahi janji-NYA, tapi salah paham, lalu menuntut kepada Alloh untuk memenuhi janjinya. Sedangkan, belum memenuhi syarat-syarat dan kewajiban pada diri. Maka, sunnah Alloh tidak akan berubah sampai kiamat.

0 komentar:

 

©2009 MEGUMI | by Sagan's