Share/Bookmark

Selasa, 13 Oktober 2009

Bangsa yang Jinak

Dunia mungkin memang menyedihkan. Mungkin lantaran itu, begitu oksigen pertama dunia kita hirup, rasa ngeri, sesal, dan nestapa kontan menyerbu, sehingga kita meneriakkan dalam tangisan. Tak cukup dengan itu, dari detik pertama kita ada (bahkan sejak dalam janin), ternyata kita sudah “menyerak”: mau tak mau menerima tawaran (atau paksaan) dunia. Sesuatu yang tampak given, walau sebenarnya adalah choices (tawaran).
Dunia adalah tawaran yang dengan begitu kerasnya mendesak kita, sehingga kita tak lagi berpeluang menolaknya. Betapapun itu mungkin dalam nature-nya. Maka demikianlah kebudayaan dan peradaban berjalan, meminta semua warga dan pengikutnya untuk serta, atau ia akan menjadi alien di detik ia berani menolaknya. Inilah bentuk otoriterianisme, juga penakhlukan atau kolonialisme pertama, yang paling purba dalam sejarah manusia.
Bukan saja adapt-istiaday, tradisi, atau konvensi, dengan segala pernik dan dimensinya, memenjara dan menelikung sekujur hidup kita, mulai ranjang bayi kita pertama hingga ranjang di lahat nanti. Tapi juga aturan budaya modern, dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi kemudian, meminta kita untuk menjadi manusia yang kalah dan “tak lagi memilih”. Menjadi manusia yang kalah dan menyerah secara total. Menjadi korban. Menjadi insane yang jinak dan dijinakkan.
Tidak perlu kita menghitungnya satu persatu. Karena ia ada dalam setiap mili hidup kita yang berjalan. Pertanyaan-pertanyaan mudah dan retoris, dapat menyerbu kita. Tanpa ada satu kata pun dapat kita produksi sebagai jawabannya. Dapatkah, misalnya, kita menolak untuk berbusana dengan gaya tertentu(dan terus terperbaharui)? Dapatkah kita menolak untuk berumah yang pantas, dengan gaya yang terus berubah, dengan material dan perabotan tertentu? Dapatkah menghindar untuk tak memiliki radio, televise, VCD player, kendaraan, kartu belanja, pilihan politik, dan seterusnya?
Tak punya pilihan. Walau nature-nya ada. Tapitak lagi dapat memilih. Sebagai bangsa telah ditakhlukkan, sudah menjadi korban dan dijinakkan. Maka, terasa betapa jinak kita, ketika produk-produk budaya terkini (yang sesungguhnya asing, bahkan kadang tidak kita perlukan) menyerbu kita dan dengan segera menjadi kebutuhan hidup, sekunder bahkan primer.
Kini lumrah sebagai bangsa kita juga pemamah sempurna barang-barang konsumtif dan apa pun yang semula baru, tak pernah ada, stranger, dan kita kadang tak memahaminya.
Apakah pemerintah dan elit penguasa kita, dapat menghindar dari logika global tentang sebuah pemerintahan: yang perlu memiliki satuan militer dengan kelengkapan dan senjata yang sama dan super mahal? Masuk ke dalam satu sistem pasar dan ekonomi terintegrasi sedemikian rupa secara global? Mengupayakan “demokrasi” dengan kelengkapan-kelengkapan kenegaraan (macam presiden, menteri, parlemen, mahkamah, polisi, dan sebagainya) dan logika politik yang semata impor?
Kita adalah makhluk yang jinak, untuk menerima itu semua tanpa kuasa bahkan untuk sekadar mengubahnya. Karena kerancuan dan ketidaktahuan kita tentang di bagian mana seharusnya kita menerima, mempertanyakan, atau menolak (jika merasa mampu) hal-hal yang seakan given di atas. Ini membuat bangsa kita ambigu bahkan kontradiktif. 1) Kita rancu dalam mengidentifikasi subyek atau substansi masalah. Kita berteriak-teriak memprotes penanganan bencana alam, kenaikan taris dasar konsumsi primer kita, birikrasi yang macet, korupsi, dan lainnya. Tapi kita menerima begitu saja, sistem yang melahirkan itu semua: kapitalisme, demokrasi, presidensialisme, dan sebagainya.
2) Kita pun rancu dalam mengenali sumber dari sebuah masalah. Ketika kita rebut tentang dana pendidikan, tentang sumber daya energi, tentang teknologi mercu suar, kerusakan lingkungan, daya baca dan harga buku yang mahal, di lain tempat kita justru membela dan meminta-minta pemerintah memberlakukan aturan HAM, pasar yang bebas dengan segala instrumennya, hak intelektual, dan seterusnya..
3) Kita pun rancu dalam membedakan domain dari sebuah masalah, ekonomi atau politik misalnya. Kita dengan keras kerap tak setuju dengan monopoli, oligopoly, dan sebagainya. Kita juga menolak persaingan tak sehat dan meminta perlindungan usaha kecil-menengah serta tradisional. Tapi kita tetap senang beli semen Holcim, Indomie, menggunakan windows pada PC kita, dan seterusnya.
Kita adalah pemburu, tak berpeluru. Salah tembak lagi.
Yang berlaku dan terjadi adalah penetrasi dan invansi modal/kapitallah yang bekerja, dalam lindungan system global (HAM, demokrasi, pasar bebas, dsb) yang di sini kita elu-elukan. Dan pemerintah tak cukup berdaya menentangnya, kecuali sekadar melakukan adjustment, yang kita tahu, tiada guna dan hasilnya. Bukan hanya kita, rakyat dan bangsa ini, jadi korban. Tapi juga pemerintah pun, sekadar korban dari perilaku mutakhir dunia. Sehebat apa pun pemerintah dan pemimpin kita saat ini, ia juga seperti kita. Jinak.

0 komentar:

 

©2009 MEGUMI | by Sagan's