Share/Bookmark

Selasa, 13 Oktober 2009

Generasi Pembeli

Hidup sebagai manusia “modern” di Indonesia adalah mengkonsumsi dengan rajin produk-produk teknologidan budaya dari para industrialis; dari kebutuhan yang ada dan muncul di kebudayaan Barat. Modernisasi adalah westernisasi, dalam makna tersendiri. Makna yang lebih tepat lagi: konsumsi.
Dan kita menyaksikan betapa rakusnya kita sebagai konsumen. Sehingga kadang kita tidak cukup menggunakan akal sehat untuk melakukannya.
Satu realitas yang banyak tidak kita pahami adalah: hal yang sudah menjadi bukti, dalam arus cepat modernisasi dan percepatan teknologi, kita sebagai masyarakat, sebagai sebuah bangsa, sebenarnya melulu telah menjadi korban. Kita bukanlah peserta aktif yang turut menyemarakkan arus dan percepatan itu. Kita bukan pemilik modernisasi itu. Kita bukan subyek di dalamnya. Kita melulu menjadi obyek.
Dan untuk hal ini kita harus menaruh “hormat” dan tabik pada para kapitalis, para industrialis besar, juga tentu para kompradornya dalam negeri, baik yang swasta maupun pihak pemerintah yang dengan seksama, trampil, canggih, dan penuh nafsu telah berhasil menggiring bangsa ini, bukan menjadi produsen, tapi melulu konsumen.
Konsumeritas kita sudak mencapai ambang yang menggiriskan, sementara produktivitas menjadi barang langka. Jika pun ada potensinya, dengan segera ia ditindih oleh kesulitan-kesulitan, dalam modal, birokrasi, jaringan, labolatorium pengembangan dan sebagainya. Lebih pahitnya, sebelum produk teknologi local muncul, pemodal besar akan menghantamnya.
Maka silakan bermimpi saja kita mampu memproduksi mobil sendiri, motor sendiri, computer sendiri, karena kapitalis-kapitalis dunia yang bermain di sini akan melindasnya. Betapapun dari segi kemampuan, kita sesungguhnya dapat berbuat banyak. Tapi hidup di masa modern, bukan soal kemampuan saja. Tapi juga modal, koneksi, kongkalikong, suap, jaringan global, dan sebagainya.
Karenanya, silakan menyerah saja. Tentu jika mendiamkan diri menjadi potongan gergasi itu selamanya. Pasrah saja kita dihisap seluruh kekayaan yang kita miliki, karena kita malas berfikir untuk mengolahnya menjadi modal yang produktif. Sampai saatnya gergasi itu pada akhirnya ditakhlukkan oleh seorang pangeran muda, seperti hikayat dan cerita lama.
Tapi siapa pangeran muda itu? Anda juga? Hahaha… anda dan waktu akan menjawabnya.

0 komentar:

 

©2009 MEGUMI | by Sagan's