Share/Bookmark

Selasa, 13 Oktober 2009

Habits of The Haves

Sungguh bingung, kadang tak percaya. Di saat semestinya para the haves yang umumnya pekerja professional atau pejabat menengah itu tengah sibuk di ruang kerja, konferensi atau negosiasi, tapi ratusan ribu mobilnya memenuhi jalan. Jika mereka berangkat kantor, kenapa siang sekali? Makan siang, belum waktunya. Pulang kantor, masih terlalu dini. Apa yang mereka lakukan sebenarnya?
Ketidakpedulian pada lingkungan, pada krisis BBM, pada nasib anak cucu masa depan, pada harga yang melambung, hamper menjadi cirri dalam perilaku (habit) para orang kaya (the haves) ini. Sama seperti tidak pedulinya beberapa di antara mereka, yang mencuci mobil dengan keran yang mengucur terus, menyiram aspal kering depan rumahnya dengan air sumur, pompa, atau resapan. Seakan air dapat dihisap tiada habisnya hingga kiamat.
Rumah-rumah besar, milyaran ahkan puluhan milyar rupiah harganya, di beberapa kawasan. Begitu hebat dan menterengnya, namun satu satu senti di depannya, kita saksikan got-got atau selokan mampet, hitam-kotor, bau, menggenangkan berbagai virus, kuman, atau bangkai. Di beberapa sudut antaranya, berdirilah tenda kumuh, dimana sebagian rakyat jelata menjual rokok, mie, nasi, atau berbagai minuman. Berbaur dengan seluruh isi got tadi, dengan ancaman maut, dengan ketidakberdayaan, dengan sejenis ketidakpedulian yang berbeda.
Di mall, plaza, dan berbagai square atau pusat perbelanjaan modern. Mereka berkumpul hamper tiap petang di bar, klab, coffe shop, resto, fitness center, dan berbagai space untuk hang-out. Menghabiskan Rp. 250 hingga Rp. 400 ribu bahkan lebih tiap malamnya, untuk bersenda. Jumlah yang memadai untuk transportasi pegawai rendah dan menengah-bawah setiap bulannya. Bahkan setara dengan penghasilan atau biaya hidup bulanan jutaan warga lainnya.
Perilaku kelas berpunya, tentu kita tahu, bukan bagian dari tradisi kita. Bukan tradisi komunitas tradisional kita mana pun. Bukan milik sub-etnik mana pun. Ia baru. Ia modern. Postmodern, mungkin. Ia adalah konstruksi sosial baru., jika bukan sebuah rekayasa tingkah laku yang baru. Satu rekayasa yang memang terencana dan memiliki maksud. Untuk mengkonsumsi produk-produk mutakhir, misalnya. Rekayasa dari hasil propaganda raksasa yang globalistis dari persekonkolan kaum kapitalis. Kaum yang menguasai produksi, melalui brand-brand kelas dunia, dimana kita adalah mulut-mulut menganga yang menanti perintah untuk mengunyahnya.
Kini semua itu belum apa-apa. Masih banyak pembela untuk mereka. Masih tersedia cukup, argumentasi bahkan alasan ideologis untuk memberanikan atau menganggapnya sebagai kewajaran. Tapi senjang yang diakibatkan oleh ketidakpedulian ini, sesungguhnya mennyimpan bara. Bahkan mesiu yang menyusun dirinya menjadi bom waktu.
System kapitalis memang telah memiliki perangkat lunak dank eras, prosedur dan mekanisme yang telah terbukti membuat bom waktu itu tak berkembang dalam kapasitas atom atau nuklir. Paling mengerikan ia hanya sampai pada tingkat TNT, atau bom-bom yang meledakkan pasar atau gedung. Bom-bom kecil, yang berfungsi sebagai “katup jelata” yang merasa iri, terinjak, dan tereksploitasi merasa jera dan tak berani berbuat lebih jauh lagi.
Tapi, sampai kapan situasi itu berlangsung? Hingga kita tetap merasa bingung? Masih jauhkan jatah nasib kita, hidup kita senantiasa terpasung?
Libur adalah masa istirahat, masa kita kembali jadi manusia. Masa di mana kita kembalikan ritme dan metabolisme hidup kita pada kinerja alam. Mendapatkan penyegaran yang memungkinkan kita bekerja lagi di keesokan harinya dengan kekuatan optimal, ide-ide baru, pikiran segar, dan jiwa yang selalu kembali muda. Libur pun wajib karenanya. Atau jadi binatang kita, sebagai risiko negatifnya.
Makna berlibur orang Barat berbeda sungguh, dengan yang dimengerti kaum urban, kaum berpunya, di kota-kota besar kita, Jakarta misalnya. Libut berarti: “belanja”. Membelanjakan sebagian hartanya untuk memenuhi selera pergaulan, modernitas, selebriti, sensualitas, atau kadang sekadar memuaskan nafsu konsumeritas belaka. Shopping di mall, nongkrong di plaza, makan siang di resto gaya Amerika, melipatgandakan tunggakan kartu kredit, membakar sia-sia BBM, menipu apresiasi anak dengan hal-hal artificial, menambah keletihan badan-batin via macet luar biasa, dan segala lain yang juga luar biasa.
Tidak dapatkah kita sejenak beristirahat? Meredam waktu dalam diam, mencipta senggang dalam tenang, mau menenggang lain orang yang hidup tak senang? Retreat sekali. Menghayati hidup selumrahnya, menghirup udara senikmatnya, memandang keluarga dengan seluruh jiwanya, memberi jiwa, tubuh dan akal kita, makanan sehat yang sesungguhnya.
Tidakkah akan lahir, secara perlahan, manusia yang sesungguhnya manusia karenanya. Manusia yang insyaALLOH bernama: manusia Indonesia. Nama yang kita tak pernah mengerti, dan rancu memahaminya.

0 komentar:

 

©2009 MEGUMI | by Sagan's