Share/Bookmark

Selasa, 17 November 2009

Say Good Bay To Yesterday

Di atas sajadah, aku mengadu kepada Rabbku yang Maha Mendengar hambanya yang tengah kesusahan. Aku pun sadar tidak seluruhnya adalah kesalahan mas Ilham, pasti aku ada mempunyai andil. Aku terlalu mencintainya, memujanya. Bahkan cintaku padanya mungkin melebihi cintaku pada Allah. Mungkin ini teguran Allah bagiku, yang sering lupa pada-Nya. Yang menjadikan kecintaanku pada mahluk melebihi segala-galanya.
Satu episode hidupku telah berusaha kulalui dengan tetap berada di jalan-Nya. Dahulu, aku memutuskan meng-iyakan cinta mas Ilham berdasarkan istikharah. Pada waktu itu aku ridho dengan dengan apa yang akan terjadi nantinya. Jadi salahkah aku kalau semuanya berakhir seperti ini?
Tiada kesempurnaan bagi seorang manusia. Allahlah yang Maha Membolak-balik hati manusia. Salahkulah yang mengharapkan kesempurnaan dari kisah cintaku, yang menganggap ia adalah segala-galanya tak bercacat. Padahal setiap orang tak pernah tahu bagaimana akhir hidupnya.
Aku masih hidup dan bernafas. Ini bukan akhir hidupku. Aku yakin Allah pasti punya rencana yang lebih baik di balik semua ujian yang diberikan-Nya. Kekalutan dan ketakutanku perlahan sirna. Aku tak perlu khawatir dengan hidupku, hidup yang mengiringi jalanku kelak. Allah-lah yang menjamin hidupku. Dia tak akan menelantarkan hamba-Nya.
Inilah takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya. Dan ini pasti yang terbaik bagi kami semua. Semoga saja Allah menjadikan sabar serta tabah kembali hati mas Ilham juga hatiku dan mengembalikannya kepada kehidupan yang dulu.
Kupandangi lagi wajah tampan di depan aku duduk saat ini. Yang kelak entah akan kutemui kembali atau tidak akan pernah.
Tangisku tetap ada, jiwaku tetap remuk redam, tapi hatiku terhibur oleh-Nya. Satu episode hidup telah kulalui. Ketika cinta harus usai maka hidup harus terus berlanjut.
Hati kecilku bertanya, kepada siapakah sebenarnya cintaku kupersembahkan? Kepada mas Ilham ataukah Allah. Cinta sesungguhnya tak pernah usai. Kuusap lelehan tangisku. Episode lain telah menunggu untuk disusuri.
Hidup memang kadang tak seindah puisi, ataupun syair romantis dalam lagu-lagu cinta. Kesedihan, kegundahan serta isak tangis juga salah satu mata rantai kehidupan yang mungkin saja terjadi. Hati yang ingin merajut masa depan bersama, retak dan hancur menjadi serpihan, laksana butir pasir tersapu gelombang pantai. Emang, perpisahan dan penolakan dengan apapun alasannya akan membuat hati ini terluka, walaupun dengan kata-kata lembut terucap.
Yah....kuakui.....IT'S SO HARD TO SAY GOODBYE TO YESTERDAY. Terutama pada semua yang kucintai. Mas Ilham, musik, dan kebisaaan burukku. Yesterday is yesterday. Mas Ilham sudah pergi tanpa kabar. Mungkin kelak ia akan jadi pangeran surga. Aku pun kelak akan menemukan pangeranku sendiri, entah di dunia atau di surga. Ya, kelak, kalau aku telah pantas mendadapatkan pangeran ataupun surga.
GOODBYE YESTERDAY……..! ! ! ! !
Bagaimanapun episode cintaku pada mas Ilham telah menggoreskan pelajaran yang mendalam. Membawaku kepada perjalanan mencari cinta yang sejati.
Bila kita harus kehilangan, apapun yang kita cintai, relakanlah ia. Sebab mungkin saja Allah mengambilnya dari kita sebab akan digantikan oleh yang lebih baik lagi. Yang jelas, Sang Khalik pasti memiliki rencana tersendiri bagi setiap hamba-Nya. Apa yang menurut diri kita baik, belum tentu itu yang terbaik di hadapan Allah. Dan sebaliknya, apa yang kita tidak sukai, bisa jadi itu adalah yang terbaik dari Allah dan sesuai dengan yang kita butuhkan.
Sesungguhnya segala sesuatu yang berada dalam ‘genggaman’ kita, bukanlah milik kita sepenuhnya. Mereka hanyalah titipan, yang sewaktu-waktu akan diambil oleh Sang Pemilik, kapanpun bila Ia berkehendak. Bila saat itu tiba, kita tidak akan berdaya untuk menahannya barang sedetikpun.
Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya...
disaat yang tepat...
dengan seseorang yang tepat....
dan pilihan yang tepat......
hanya dari Allah Swt.
disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu
dalam ikatatan pernikahan yang barokah.
Semoga saja akan demikian adanya...

0 komentar:

 

©2009 MEGUMI | by Sagan's