Share/Bookmark

Rabu, 20 Januari 2010

KEBIJAKSANAAN HIDUP BAGIAN IV ( AGAMA )


Agama digambarkan sebagai metafisika dari manusia-manusia yang bergerombol (the metaphysics of the masses). Tetapi, ia kemudian melihat makna yang terkandung di dalam praktek-praktek dan dogma-dogma agama. Dengan menyelidiki esensi agama, maka akan terkuak makna dari filsafatnya. Kristianitas misalnya, adalah sebuah filsafat yang mendalam tentang pesimisme: “doktrin tentang dosa asal (penegasan atas pengakuan atas kekuatan kehendak) dan pembebasan (penolakan atas kehendak) merupakan kebenaran sejati yang menjadi esensi Kristianitas Ketuatan melalui kebajikan, yang darinya Kristianitas dapat mengatasi Judaisme yang pertama, dan kemudian atheisme Yunani dan Roma, semata-mata terletak pada pesimismenya, pada pengakuannya bahwa kita berada dalam keadaan celaka dan berdosa, sedangkan baik Judaisme maupun Atheisme terlampau optimistik.
Akan tetapi, Budisme lebih mendalam ketimbang Kristianitas karena ia mengahancurkan kehendak, yang masih diakui oleh seluruh agama, dan memuja Nirwana sebagai tujuan dari seluruh perkembangan pribadi. Orang-orang Hindu lebih mendalam daripada para pemikir Eropa karena interpretasi mereka tentang dunia adalam interpretasi yang internal dan intuitif, dan bukannya eksternal dan intelektual. Intelek membagi-bagi atau memilah-milah segala sesuatu, intuisi menyatukan segala sesuatu. Orang-orang Hindu melihat “aku” sebagai khayalan individu semata-mata merupakan sesuatu yang bersifat fenomenal, dan hanya merupakan bagian dari kenyataan sejati, yakni “Yang Tidak Terbagi” (The Infinite One). Terdapat ramalan bahwa pengaruh filsafat Timur, khususnya India, pada kebudayaan Eropa: “Pengaruh literatur Sansekerta akan merebak tidak kurang kuatnya dibandingkan dengan pengaruh kesusastraan Yunani pada abad kelimabelas”.
Kebijaksanaan sejati adalah milikNYA: mengurangi sesedikit mungkin keinginan dan kehendak kita. Kehendak dunia lebih kuat daripada kehendak kita, oleh sebab itu, kurangilah kehendak kita. Semakin berkurang kehendak menggoda kita, semakin berkurang penderitaan menimpa kita.
Dengan tiga unsur agama ( Islam ); Iman, Islam, dan Ihsan, kita sebagai insanNYA memahami dan menjalani ketiganya (unsur) insyaALLOH dengan ridhloNYA akan diberikan kenikmatan kehidupan. Jika dalam Matematika 1 + 1 = 2, maka dengan berpegang teguh pada agama Islam juga ada rumusnya, “Saya + ALLOH = Cukup” dan segala kenikmatan ditambah rasa syukur menghujam dalam di jiwa kita,…… Aamien3x… … Wallohu Alam bi Showab …… ^_^

0 komentar:

 

©2009 MEGUMI | by Sagan's