Share/Bookmark

Rabu, 20 Januari 2010

KEBIJAKSANAAN HIDUP BAGIAN II ( JENIUS )


Jenius adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan yang tidak banyak unsur kehendaknya (will-less knowledge). Bentuk paling rendah dari seluruh kehidupan berasal dari kehendak, dan tanpa pengetahuan. Manusia kebanyakan adalah sebagian besar kehendak dan sedikit pengetahuan, sedangkan jenius adalah sebagian besar pengetahuan dan sedikit kehendak. Pada manusia jenius, aktivitas reproduktif berada jauh di luar aktivitas intelektual. Jeniua adalah keunggulan yang tidak normal dari perasaan dan sikap lekas marah terhadap kekuatan reproduktif. Itulah sebabnya, ada perumusan sengit antara jenius dengan perempuan. Perempuan merupakan simbol dari reproduksi dan dari tunduknya intelek pada kehendak. Perempuan bisa saja punya bakat, tapi tidak jenius, karena selalu tetap subjektif. Bersama perempuan segala sesuatu adalah personal, dan dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi. Sebaliknya, jenius adalah “objektivitas yang paling lengkap”. Jenius adalah “daya atau kekuatan” yang meninggalkan kepentingannya sendiri, menghapus keinginan dan tujuannya sendiri, menunda kepribadiannya untuk sementara waktu, sehingga bisa menjadi subyek yang sungguh-sungguh mengetahui, dan visinya tentang dunia sangat jelas…. Oleh sebab itu, ekspresi dari seorang jenius adalah: pada wajah jenius, unggulnya pengetahuan atau kehendak tampak sangat jelas.
Kalau intelek terbebaskan dari kehendak, maka ia bakal mampu melihat objek sebagaimana adanya. Pikiran menerobos nafsu, seperti sinar matahari menembus kabut, untuk kemudian menerangi pusat benda-benda. Melalui apa yang partikular dan individual, pikiran mampu sampai pada “Ide Platonis” atau esensi yang universal. Rahasia jenius terletak pada persepsinya yang jelas dan utuh pada sesuatu yang objektif, yang esensial, dan yang universal.
Akan tetapi, karena jenius “berbeda” dengan orang kebanyakan maka ia merupakan orang yang tidak mampu menyesuaikan diri ke dalam dunia aktivitas yang penuh kehendak, yang praktis, dan personal. Karena ia (jenius) melihat sedemikian jauh, maka ia tidak mampu melihat apa yang paling dekat dari dirinya; ia adalah orang yang tidak hati-hati dan “aneh”, sementara visinya diarahkan pada bintang-gemintang, tanpa sadar kakinya menginjak lubang. Jenius itu asosial, ia berpikir tentang apa yang fundamental, yang abadi, yang universal. Orang kebanyakan berpikir tentang yang temporer, yang khusus, yang langsung jadi; pikiran mereka dangkal dan tidak mempunyai dasar yang kuat. Biasanya manusia gemar bergaul, secara intelektual miskin dan secara umum vulgar. Manusia jenius mempunyai kompensasi: Kepuasan yang diperoleh dari semua keindahan, hiburan yang didapatkan dari seni, dan antusiasme dari seniman, semua itu membuat ia lipa pada susahnya kehidupan. Itu semua adalah bayaran untuk…. Jernihnya kesadaran dan untuk kesendiriannya yang hening di antara berbagai ras manusia yang bermacam-macam.
Akan tetapi, konsekuensinya, jenius terpaksa hidup dalam isolasi dan kadang-kadang dalam kegilaan. Perasaannya yang amat sensitif, dipadukan dengan imajinasi dan instuisinya, ditambah dengan kesendirian dan ketidakmampuannya untuk beradaptasi, membuat jiwanya terputus dari kenyataan. Hubungan antara kegilaan dan jenius, tampak dari biografi-biografi orang-orang besar seperti Rousseau. Di dalam rumah sakit-rumah sakit jiwa, banyak ditemukan kasus pasien individual yang memiliki bakat-bakat besar, dan yang kejeniusannya tampak melalui kegilaannya.
………. (@_@) …………

0 komentar:

 

©2009 MEGUMI | by Sagan's